DetektifinvestigasiGWI.com | CILACAP – Hari pertama bertugas, Selasa (7/10/2025), Kalapas Besi Nusa Kambangan yang baru, Muda Husni, langsung menembus “zona nyaman” birokrasi. Tanpa menunggu seremoni panjang, Husni turun ke blok hunian, mengamati langsung kondisi warga binaan, dan membuka dialog yang jarang terjadi di masa-masa sebelumnya.
Langkah ini menjadi sinyal awal reformasi yang lebih dari sekadar kata-kata. Husni menegaskan penerapan PRIMA – Profesional, Responsif, Integritas, Modern, dan Akuntabel – sebagai budaya kerja wajib. “PRIMA bukan slogan, tapi panggilan aksi nyata. Setiap kebijakan dan tindakan harus bisa dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Kalapas muda ini menekankan bahwa profesionalisme bukan hanya urusan administrasi, tapi harus terlihat di lapangan: pelayanan cepat, tepat, dan transparan. Integritas wajib ditegakkan, modernisasi sistem menjadi keharusan, dan akuntabilitas harus nyata, bukan sekadar laporan formal.
Warga binaan menyambut positif kehadiran Husni, namun di balik itu tersimpan tantangan besar: membongkar kultur lama yang birokratis, mengubah kebiasaan lama jajaran, serta membangun komunikasi dua arah yang jujur.
“Pemasyarakatan harus dibangun dari bawah, lewat komunikasi terbuka dan tindakan nyata. Tidak ada ruang untuk prosedur kosong,” kata Husni.
Kontrol perdana ini menandai ambisi Kalapas Muda Husni untuk menjadikan Lapas Besi sebagai contoh transformasi birokrasi di Kemenimipas. Namun pertanyaannya: mampukah gebrakan ini menembus praktik lama yang mengakar?
Reporter: Fahmi Hendri
Editor: ZoelIdrus












