Manggarai – Investigasigwi.com. Ada pengalaman berbeda yang dirasakan petani di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Belum pernah sebelumnya mereka merasa kewalahan memenuhi permintaan pasar yang begitu besar.
Permintaan itu tidak lain datang dari dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG). Saking tingginya permintaan, petani sampai tidak bisa memenuhinya.
“Permintaannya banyak, petani tidak memenuhi,” ujar Gili Jenadi, petani dari Kelurahan Bangka Leda, Kecamatan Langke Rembong, Sabtu (21/2). Dia bersyukur tanamannya bisa terserap dengan baik.
Agar bisa memenuhi permintaan, Gili mencoba untuk menanam berbagai jenis tanaman di lahan miliknya. Pertama, dia menanam buncis sesuai permintaan SPPG, dan itu langsung diborong habis.
Gilli juga menanam tomat dan cabai keriting. Untuk jangka panjang, Gili juga menyiapkan tanaman brokoli untuk kebutuhan tahunan.
“Tahun 2025 kemarin, saya punya bancis kurang lebih 3 ribu pohon. Terlaku habis untuk program MBG,” katanya.
Dari pengalaman itu, Gili berani untuk menanam berbagai jenis tanaman hortikultura. Apalagi permintaannya tinggi berkat program MBG.
“Berani menanam wortel, sebelumnya saya tidak berani. Kebutuhan wortel sangat tinggi sekali untuk MBG,” jelasnya.
Gili berharap program MBG bisa terus berjalan. Selain meningkatkan gizi penerima manfaat, terutama siswa sekolah, MBG ini juga berkah tersendiri bagi para petani.
Pengalaman serupa juga datang dari Mikael Jehudu, Ketua Kelompok Tani Harapan Baru Kelurahan Wali. Dia berani menanam berbagai jenis tanaman agar bisa terserap dapur MBG.
Tanaman yang menjadi andalannya adalah daun bawang, terung, dan mentimun. Khusus mentimun, dia punya pengalaman menarik.
Mikael bercerita, sebelum ada MBG, mentimun jenis baru yang dia tanam hanya dihargai Rp 1.000 per kilogram, paling baik Rp 1.500 per kilogram.
“Kalau di pasar umum, beberapa bulan lalu, besar-besar begini saya punya, hanya (dihargai) seribu,” kenang Mikael.
Kini, harga mentimunnya bahkan naik hingga 10 kali lipat. Dapur MBG mau menyerap semua hasil tanamannya. “Jadinya per kilogram Rp 10 ribu (bahkan) Rp 12 ribu,” kata dia.
(Welly/ Red)












